Di era digital yang serba cepat ini, prestasi di lapangan olahraga saja tidak lagi cukup untuk menjamin keberlanjutan karier seorang olahragawan. Bapomi Asahan menyadari perubahan paradigma ini dengan mulai memperkenalkan konsep Membangun Brand Atlet pribadi kepada para atlet mahasiswanya. Membangun citra diri yang positif dan profesional kini menjadi kebutuhan krusial agar seorang atlet dapat menarik perhatian sponsor, media, hingga masyarakat luas. Tanpa identitas yang kuat, prestasi sehebat apa pun sering kali terkubur oleh hiruk-pikuk informasi di dunia maya yang sangat padat.
Seorang atlet masa kini dituntut untuk menjadi komunikator yang baik bagi dirinya sendiri. Bapomi memberikan edukasi tentang bagaimana cara mengemas perjalanan latihan, perjuangan saat kalah, hingga euforia saat menang menjadi sebuah narasi yang menginspirasi. Citra diri yang dibangun bukan berarti kepalsuan, melainkan penonjolan nilai-nilai positif seperti disiplin, kerja keras, dan sportivitas yang melekat pada diri seorang mahasiswa. Identitas yang konsisten akan menciptakan kepercayaan dari pihak luar, yang nantinya bisa berujung pada dukungan finansial maupun kesempatan karier di luar dunia olahraga.
Peran mahasiswa sebagai agen perubahan sangat relevan dalam konteks digital ini. Mereka adalah generasi asli digital (digital natives) yang sudah terbiasa dengan teknologi, namun sering kali belum memahami cara memanfaatkannya untuk tujuan profesional. Pelatihan yang diadakan di Asahan fokus pada etika berkomunikasi dan cara membangun konten yang memiliki nilai jual. Mahasiswa diajarkan bahwa setiap unggahan adalah representasi dari universitas dan daerahnya, sehingga tanggung jawab dalam berperilaku di media sosial menjadi bagian dari integritas mereka sebagai figur publik muda.
Pengelolaan sosmed yang bijak juga mencakup pemahaman tentang algoritma dan manajemen waktu. Jangan sampai aktivitas di dunia maya justru mengganggu fokus utama mereka dalam berlatih dan belajar. Bapomi Asahan menekankan pentingnya keseimbangan; media sosial adalah alat pendukung, bukan tujuan utama. Dengan strategi yang tepat, seorang atlet bisa memiliki jangkauan audiens yang luas tanpa harus kehilangan privasi atau konsentrasi. Penggunaan platform seperti Instagram atau TikTok untuk berbagi tips olahraga atau kampanye hidup sehat adalah contoh bagaimana teknologi bisa memberikan dampak sosial yang luas.
