Zero Food Waste: Cara Asahan Kelola Sisa Makanan Ramadan

Bulan Ramadan sering kali diwarnai dengan fenomena belanja makanan yang berlebihan atau panic buying saat menjelang berbuka. Ironisnya, hal ini sering kali berujung pada tumpukan sisa makanan yang terbuang sia-sia ke tempat pembuangan akhir. Di Kabupaten Asahan, fenomena ini mulai disikapi secara serius oleh komunitas pemuda dan mahasiswa melalui gerakan zero food waste. Mereka sadar bahwa esensi puasa adalah menahan diri, termasuk menahan diri dari perilaku boros yang merusak lingkungan melalui produksi sampah organik yang tidak terkendali.

Langkah awal yang dilakukan dalam cara Asahan menangani masalah ini adalah dengan melakukan kampanye edukasi di pasar-pasar takjil dan pusat kuliner. Para mahasiswa turun ke jalan untuk mengingatkan pembeli agar berbelanja sesuai kebutuhan. Namun, inti dari program ini adalah sistem penyelamatan makanan atau food rescue. Tim relawan bekerja sama dengan restoran, hotel, dan katering di sekitar wilayah Asahan untuk menjemput kelebihan makanan yang masih layak konsumsi namun tidak terjual. Makanan ini kemudian disortir dan dibagikan kembali kepada mereka yang membutuhkan sebelum kualitasnya menurun.

Strategi untuk kelola sisa makanan ini membutuhkan ketelitian tinggi. Mahasiswa yang terlibat dibekali dengan pengetahuan mengenai keamanan pangan (food safety) agar makanan yang didistribusikan tetap sehat untuk dikonsumsi. Untuk sisa makanan yang sudah tidak layak konsumsi manusia, seperti sisa tulang atau sayuran yang layu, mereka bekerja sama dengan kelompok tani dan peternak untuk menjadikannya pakan ternak atau diolah menjadi pupuk kompos. Dengan demikian, tidak ada satu pun bagian dari makanan ramadan yang berakhir menjadi sampah yang mencemari lingkungan.

Implementasi konsep ini di tingkat rumah tangga juga menjadi perhatian. Mahasiswa membagikan tips melalui selebaran dan konten digital tentang cara menyimpan bahan pangan agar lebih awet, serta cara mengolah kembali makanan sisa menjadi menu baru yang lezat untuk sahur. Pendekatan ini sangat relevan mengingat lonjakan volume sampah di Kabupaten Asahan biasanya meningkat hingga 20 persen selama bulan puasa. Dengan adanya intervensi dari gerakan ini, tekanan terhadap infrastruktur pengelolaan sampah di daerah tersebut dapat sedikit berkurang, sekaligus menanamkan gaya hidup yang lebih islami dan berkelanjutan.