Hubungan erat antara Kabupaten Asahan dan Kota Medan kembali terlihat melalui aksi nyata para pemuda dan mahasiswanya. Saat Kota Medan menghadapi tantangan serius akibat kenaikan permukaan air laut, gerakan BAPOMI Asahan segera merespons dengan cepat dengan Penyaluran Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir Rob. Mereka menyadari bahwa sebagai sesama warga di Sumatera Utara, penderitaan yang dirasakan oleh warga Medan adalah penderitaan mereka juga. Dengan semangat kepedulian yang tinggi, mahasiswa mulai mengonsolidasikan kekuatan untuk mengumpulkan bantuan bagi mereka yang rumahnya terendam air asin selama berhari-hari.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah penyaluran bantuan yang dilakukan secara terstruktur agar mencapai sasaran yang tepat. Mahasiswa Asahan tidak hanya sekadar mengumpulkan uang, tetapi juga melakukan kajian mengenai apa yang paling dibutuhkan oleh warga di daerah pesisir Medan yang sering terkena dampak air pasang. Melalui komunikasi dengan relawan di lapangan, didapatkan informasi bahwa kebutuhan akan air bersih, obat-obatan kulit, dan paket sembako menjadi hal yang paling mendesak. Mahasiswa pun bergerak dengan target donasi yang jelas agar bantuan yang diberikan bersifat solutif bagi permasalahan di lapangan.
Penerima manfaat dari gerakan ini adalah para warga terdampak yang tinggal di kawasan Medan Utara dan sekitarnya. Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan, di mana air laut masuk ke dalam rumah dan merusak perabotan serta mengganggu aktivitas ekonomi warga. Mahasiswa BAPOMI Asahan turun langsung ke lokasi dengan membawa semangat gotong royong. Mereka berjalan di tengah genangan air untuk mengantarkan paket bantuan dari pintu ke pintu, memastikan bahwa warga lanjut usia dan anak-anak mendapatkan prioritas pertama dalam menerima bantuan kesehatan dan pangan.
Fenomena banjir rob memiliki karakteristik yang berbeda dengan banjir bandang atau banjir kiriman sungai. Air asin yang merendam pemukiman tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga membawa risiko penyakit kulit dan diare jika tidak ditangani dengan sanitasi yang baik. Oleh karena itu, bantuan yang dibawa oleh mahasiswa Asahan juga mencakup paket kebersihan pribadi dan desinfektan. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai kesehatan masyarakat dan mitigasi dampak bencana yang spesifik, tidak sekadar memberikan bantuan secara umum saja.
Keterlibatan mahasiswa dalam aksi sosial ini juga menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah daerah. Selama proses distribusi, mahasiswa mencatat berbagai keluhan warga mengenai kurangnya sarana drainase dan tanggul penahan air laut. Data ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan audiensi atau masukan bagi pembuat kebijakan di tingkat provinsi maupun kota. Mahasiswa Asahan menunjukkan bahwa peran mereka sebagai “agent of change” tetap berjalan meski mereka berada di luar daerah domisili mereka, selama hal tersebut berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas.
